Peringati Hari Kartini, Himajep Adakan Webinar dan Relevansinya Di Masa Kini

0

Tarakan- Kraya.id. Sabtu (24/4/20), Himpunan Mahasiswa Jurusan Ekonomi Pembangunan (Himajep) FE UBT kembali menggelar Webinar atau Seminar Online melalui aplikasi via Zoom Meeting mengusung tema “Refleksi Juang Kartini terhadap Pertahanan Perempuan dari Segi Ekonomi, Politik dan Sosial”.

Bertepatan hari Kartini tentunya dengan peran aktif perempuan Indonesia, Himajep FE UBT mengundang secara daring Dr. Witri Yuliawati, S.E, M.Si selaku Wakil Dekan II Bagian Kemahasiswaan Fakultas Ekonomi UBT sebagai pembicara utama.

Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP, tokoh politik perempuan sekaligus Wakil Ketua Komisi X DPR RI sebagai pembicara kedua. Tidak lupa aktivis perempuan Naila Fitria juga turut mengikuti seminar ini sebagai pembicara terakhir.

Seminar online kali ini terdiri dari 60 peserta lebih dari seluruh mahasiswa se-Indonesia yang dimulai pukul 09.00 Wita dengan sangat khidmat.

Semangat dari Himajep FE UBT tidak melemah dan terus memberikan karya-karyanya. Mengajak seluruh Mahasiswa untuk terus aktif, kreatif dan inovatif lewat diskusi-diskusi yang diselenggarakan.

Ketua Pelaksana Kegiatan, Hasnawiya pada laporan kepanitiaannya berharap agar pelaksanaan kegiatan berjalan dengan lancar.

Dalam forum yang sama, Ketua Umum Himajep FE UBT, Marlinda menambahkan, kegiatan ini bermaksud untuk mengajak para perempuan mengenang kembali perjuangan Kartini yang telah membela dan memberi teladan kaum perempuan, namun masih tetap menjunjung tinggi kodratnya dengan nilai-nilai luhur Indonesia.

“Kartini adalah sosok yang mampu mengajak para kaum perempuan mau dan mampu menjadi pejuang sejati bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya demi terwujudnya Indonesia yang sehat”, terangnya pada saat sambutan (24/4/2020) pagi.

Usai sambutan, Audrey Ananda Jelita (Wakil Ketua BEM FE UBT), selaku moderator memimpin jalannya acara dengan meriah.

Seperti yang diketahui, Kartini merupakan salah satu pejuang emansipasi yang menyetarakan derajat perempuan dengan laki-laki.

Perjuangannya diakui seluruh masyarakat sehingga ditetapkan 21 April sebagai memperingati hari Kartini.

Ibu Witri menjelaskan, tanpa mengesampingkan kodrat perempuan sebagai seorang istri dan ibu bagi anak-anaknya.

Perempuan sejatinya bisa menjadi tulang punggung bangsa diberbagai posisi strategis dengan bekal karakternya yang lembut, ulet dan jiwanya yang kuat.

“Seperti yang bisa kita lihat sosok Kartini masa kini, contohnya ibu Susi Pudjiastuti, Najwa Shihab, dan Merry Riana. Kesetaraan laki laki dan perempuan tidaklah menutup kesempatan buat perempuan untuk mengubah dunia menjadi lebih baik,” tuturnya.

Peserta diskusi sangat antusias begitu mendengar pemaparan materi oleh Ibu Witri.

Selanjutnya, Ibu Hetifah menyampaikan tentang perjuangan Kartini yang tidaklah mudah. Keberaniannya mendobrak pemikiran di jamannya bahwa perempuan juga memiliki hak dan kebebasan untuk berkarya layaknya kaum laki-laki.

Justru di era kekinian, gagasan itu menurutnya harus dilanjutkan dalam bidang ekonomi, sosial dan politik.

“Gagasan serta aktivitas Kartini semula hanya berupa setetes air yang menjadi ombak besar yang memecah paradigma tradisional yakni, perempuan hanya “konco wingking” atau teman di dapur atau juga pelengkap rumah tangga suami,” terangnya.

Dengan melanjutkan cita-cita mulia tersebut, pada bidang politik misalnya, partisipasi perempuan dirasa begitu penting.

“Partisipasi perempuan dalam politik mempengaruhi kebijakan-kebijakan yang memperjuangkan kepentingan kaum perempuan di bidang sosial (gender) maupun ekonomi, yang mungkin terlupakan atau tidak terfikirkan oleh kaum laki-laki,” jelasnya.

Itulah pemaparan singkat mengenai sharing dan edukasi politik.

Materi terakhir yang tidak kalah menarik dari dua narasumber sebelumnya, yakni giliran Kak Naila.

Ia menyebut, kedaulatan perempuan bukanlah urusan untuk mengalahkan laki-laki, atau membuat laki-laki menjadi subordinat perempuan tetapi perempuan menjadi mitra.

“Kedaulatan perempuan itu bukan urusan untuk menyingkirkan peran laki-laki, tetapi perempuan sebagai pelengkap dan kedaulatan perempuan bukan untuk meninggalkan peran dan tanggung jawabnya dalam rumah tangga dan pengasuhan atau pendidikan anak,” katanya.

Menurutnya, kedaulatan perempuan tidak sekedar hanya terkait dengan hak-hak politik perempuan atau lebih pada politik praktis.

Diskusi yang berjalan sampai tengah hari itu begitu menarik ketika para peserta saling mengajukan pertanyaan atas argumentasinya.

Terakhir, komentar kesan diskusi dari Himajep FE UBT yang diwakili oleh moderator mengatakan, semoga diskusi yang telah berlangsung membuka mata kalangan wanita untuk terus berkarya.

“Diharapkan dengan seminar online tadi, kita tidak hanya mampu memperingati hari Kartini saja, tapi mengetahui tentang seluk beluk dari sosok seorang ibu Kartini dan merefleksikannya ke hari ini. Amin,” tutupnya. (*/van)

Share.

About Author

Leave A Reply