Kalimantan Raya, Nunukan – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Nunukan merilis data mengenai jumlah dan persentase penduduk miskin per Maret 2025. Berdasarkan perhitungan BPS, jumlah penduduk miskin di Nunukan tercatat sebanyak 11,81 ribu orang, dengan persentase kemiskinan sebesar 5,27 persen.
Kepala BPS Kabupaten Nunukan, Iskandar Ahmaddien, menjelaskan bahwa meskipun jumlah orang miskin mengalami penurunan, persentase kemiskinan justru menunjukkan sedikit kenaikan dibandingkan periode tahun sebelumnya.
“Persentase penduduk miskin per Maret 2025 sebanyak 5,27 persen, naik 0,46 persen poin dibanding Maret 2024,” kata Iskandar.
Secara angka, jumlah penduduk miskin 11,81 ribu orang ini mengalami penurunan sebanyak 0,20 ribu orang dibandingkan Maret 2024 (12,01 ribu orang). Angka ini juga turun 0,07 ribu orang jika dibandingkan Maret 2023.
Iskandar juga menyoroti kenaikan pada Garis Kemiskinan (GK), yang menjadi penentu status kemiskinan seseorang.
“Adapun perhitungan garis kemiskinan per Maret 2025 di Kabupaten Nunukan, tercatat senilai Rp 621.290/kapita/bulan,” ujarnya.
Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan Maret 2024 yang sebesar Rp 597.431/kapita/bulan, dan Maret 2023 sebesar Rp 556.342/kapita/bulan. Kenaikan Garis Kemiskinan ini menunjukkan adanya tekanan pada kebutuhan dasar masyarakat.
Selain itu, dua indikator penting lainnya yang digunakan untuk mengukur kedalaman dan keparahan kemiskinan juga meningkat. Yang pertama merujuk pada Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dimana pada Tahun 2025 tercatat 1,26, meningkat 0,44 poin dibandingkan 0,82 pada tahun 2024. Kemudian yang kedua, merujuk pada Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) dimana Tahun 2025 tercatat 0,55 poin, meningkat 0,23 poin dari tahun 2024.
“Peningkatan Indeks Kedalaman dan Keparahan ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin semakin menjauhi garis kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin juga semakin melebar,” jelas Iskandar.
Meski demikian, Iskandar menekankan bahwa dalam jangka panjang, indikator penduduk miskin di Nunukan menunjukkan tren yang fluktuatif, namun dengan kecenderungan menurun.





