August 20, 2026
Kaltara Tarakan

Buntut Kediaman Orang Tua Didatangi Sekelompok OTK, Ketua HMI Tarakan: Ada Upaya Pembungkaman Gerakan Mahasiswa

  • Agustus 20, 2026
  • 3 min read
Buntut Kediaman Orang Tua Didatangi Sekelompok OTK, Ketua HMI Tarakan: Ada Upaya Pembungkaman Gerakan Mahasiswa

Kaltara Raya, Tarakan – Menanggapi Laporan Pengaduan Masyarakat (Lapdu) yang dilayangkan TA dan RS ke Polres Tarakan atas dugaan penyebaran video dan pencemaran nama baik, Ketua Umum HMI Cabang Tarakan, Fadhil Qobus, angkat bicara memberikan bantahan pada Kamis siang (20/8/2026).

Fadhil membeberkan kronologi versi dirinya. Kejadian itu bermula pada Selasa malam (11/8/2026) sekitar pukul 20.30 WITA, saat rumah orang tuanya mendadak didatangi sekitar delapan orang tak dikenal yang mengaku sebagai keluarga Dirut PDAM Tarakan, Iwan Setiawan. Dua orang masuk hingga ke area teras, sementara enam lainnya menunggu di luar.

Fadhil secara tegas menolak klaim bahwa aksi pendatangan delapan orang ke rumah orang tuanya hanyalah sekedar silaturahmi atau niat mediasi biasa. Menurutnya, cara, waktu, hingga lokasi yang disasar rombongan tersebut sudah memenuhi unsur tekanan psikologis.

“Berdasarkan fakta yang ada, sulit menganggap peristiwa ini semata-mata kunjungan biasa tanpa mempertanyakan tujuannya. Istilah silaturahmi tidak otomatis menghilangkan sifat intimidatif dan teror. Yang harus diingat adalah cara, situasi, jumlah orang, sasaran, waktu, hingga konteks konflik yang sedang berjalan,” ujar Fadhil Qobus saat memberikan tanggapan, Kamis (20/8/2026).

Fadhil menyoroti perbedaan mendasar dari aksi pendatangan tersebut. Pihak rombongan tidak berupaya menghubunginya secara pribadi melalui saluran komunikasi, melainkan mendatangi rumah orang tuanya secara mendadak.

“Mereka tidak datang secara langsung kepada saya, melainkan ke rumah orang tua saya. Itu membuat persoalannya berbeda. Jika memang ada urusan, ada banyak jalur yang bisa ditempuh, seperti telepon, pesan, surat, melalui kuasa hukum, atau bertemu di tempat yang disepakati. Mendatangi rumah keluarga saya secara tiba-tiba dengan rombongan, lalu tetap menunggu setelah diberitahu saya tidak ada, adalah tindakan intimidatif yang memberikan tekanan psikologis terhadap saya dan keluarga,” cecarnya.

Terkait keberatan pelapor mengenai rekaman video yang beredar di media sosial, Fadhil menegaskan bahwa perekaman tersebut dilakukan di wilayah privat milik keluarganya.

“Disensor atau tidaknya wajah mereka dalam video yang beredar di medsos, tidak ada persoalan. Sebab mereka mendatangi rumah orang tua saya, itu wilayah saya, itu ruang privat saya, dan saya berhak mendokumentasikan itu. Justru saya yang keberatan atas peristiwa ini,” tegas Fadhil.

Lebih lanjut, Fadhil membeberkan fakta baru bahwa oknum yang menyambangi kediaman keluarganya tersebut teridentifikasi sebagai pegawai di PDAM Tirta Alam Tarakan. Hal itu makin menguatkan prasangkanya bahwa pergerakan rombongan tersebut tidak lepas dari konflik hukum yang sedang bergulir.

“Belakangan saya mengetahui bahwa orang yang mendatangi rumah saya adalah pegawai di PDAM Tarakan, sehingga wajar ketika saya berasumsi bahwa mereka orang suruhan. Sangat sulit memisahkan peristiwa ini dari polemik kasus doxing dan pelaporan terhadap diri saya yang sedang dalam proses hukum,” tambahnya.

Menyikapi langkah hukum yang diambil kubu TA dan RS ke Mapolres Tarakan, Fadhil mengaku heran dan menilai tindakan tersebut sebagai bentuk pembodohan publik serta upaya pembungkaman gerakan mahasiswa. Pihaknya kini tengah mematangkan opsi laporan balik.

“Saya merasa tergelitik dan tertawa atas apa yang terjadi hari ini. Saya adalah korban dugaan intimidasi dan teror, namun malah mereka yang melapor untuk mempolisikan. Saya akan pertimbangkan untuk melaporkan balik persoalan ini ke Polres Tarakan. Menurut saya ini adalah bukti pembodohan publik dan upaya pembungkaman terhadap gerakan mahasiswa,” tegas Fadhil.

Di akhir keterangannya, Fadhil menyerukan kepada seluruh elemen masyarakat untuk terus mengawal pergerakan kasus ini demi masa depan keberanian anak muda di perbatasan.

“Saya mengajak dan menyerukan kepada semua pihak untuk menyeriusi dan mengawal persoalan ini. Sebab ini bukan soal saya, ini bukan soal HMI, ini soal nasib anak muda ke depan. Semakin ditekan, semakin melawan,” pungkasnya.

Leave a Reply