October 2, 2026
Advetorial Tarakan

Jangan Tunggu Anak Lahir, Wali Kota Tarakan: Cegah Stunting Sejak Dalam Kandungan

  • September 28, 2026
  • 2 min read
Jangan Tunggu Anak Lahir, Wali Kota Tarakan: Cegah Stunting Sejak Dalam Kandungan

TARAKAN – Wali Kota Tarakan, dr. H. Khairul, M.Kes., menegaskan upaya pencegahan stunting harus dilakukan sejak bayi masih berada dalam kandungan, bukan setelah anak lahir.

Hal tersebut disampaikan Khairul saat menghadiri Maternity Expo yang digelar Puskesmas Gunung Lingkas dan diikuti sekitar 100 ibu hamil. Ia mengingatkan pentingnya pemeriksaan kehamilan secara rutin sebagai langkah awal memastikan ibu dan bayi dalam kondisi sehat.

Khairul mengatakan, pengalaman pandemi COVID-19 pada 2019–2020, ketika aktivitas Posyandu dan pemeriksaan ibu hamil sempat terganggu, turut berdampak terhadap tingginya angka stunting di Tarakan. Saat itu, angka stunting disebut mencapai sekitar 25 persen.

Kini, angka tersebut menunjukkan penurunan. Berdasarkan informasi yang diterima Khairul, prevalensi stunting Tarakan melalui Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) berada di kisaran 12 persen. Sementara berdasarkan data EPPGM sekitar 4 persen dan khusus wilayah Gunung Lingkas sekitar 4,2 persen.

“Kalau kita ingin menghasilkan generasi yang bagus, yang cerdas, yang hebat, yang unggul, dimulainya dari proses kehamilan. Kalau sudah lahir, tidak banyak lagi yang bisa dilakukan,” tegasnya.

Karena itu, Khairul meminta ibu hamil tidak menunda pemeriksaan hingga memasuki trimester akhir. Pemeriksaan kehamilan minimal enam kali harus dipenuhi dan, jika memungkinkan, dilakukan setiap bulan untuk mendeteksi sejak dini berbagai risiko, seperti hipertensi maupun komplikasi kehamilan.

Menurutnya, pemeriksaan yang terlambat dapat meningkatkan risiko terhadap keselamatan ibu dan bayi. Kondisi tersebut juga dapat menghambat upaya pemerintah dalam menekan angka kematian ibu, angka kematian bayi, serta prevalensi stunting.

Khairul menegaskan keberhasilan Maternity Expo tidak hanya diukur dari pelaksanaan kegiatan yang meriah, tetapi dari dampak nyata setelah kegiatan berlangsung.

“Bukan hanya seremoninya yang kita butuhkan, tetapi dampaknya. Kalau di sini terjadi zero kematian ibu, zero kematian bayi, dan tidak ada stunting, baru saya anggap berhasil,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi kolaborasi Puskesmas Gunung Lingkas, Pertamina Patra Niaga, BPJS Kesehatan, pemerintah kecamatan dan kelurahan, kader Posyandu, serta seluruh pihak yang terlibat dalam upaya meningkatkan kesehatan ibu dan anak demi menyiapkan generasi emas Tarakan 2045.(*)