Kalimantan Raya, Tarakan – Angka di Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tarakan tidak hanya bicara statistik, tetapi juga kisah ribuan mimpi yang tertunda. Dengan total 6.216 jiwa pengangguran yang tercatat, BPS Tarakan menyoroti sebuah fakta pahit, sekitar 22 persen dari jumlah tersebut adalah lulusan sarjana.
Angka yang tinggi ini, sebagaimana diungkapkan Kepala BPS Tarakan, Umar Riyadi, menunjukkan bahwa memiliki pendidikan formal tertinggi tidak lagi otomatis menjadi jaminan memasuki dunia kerja.
“Keterampilan atau skill itu penting, dunia kerja juga butuh lulusan yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan pasar,” ujar Umar Riyadi, Selasa (6/5/2025).
Ia menegaskan, masalah pengangguran di Tarakan tidak selalu berasal dari minimnya ketersediaan lapangan kerja. Lebih dari itu, persoalan ini menyentuh aspek kesiapan diri para pencari kerja untuk bersaing, mengasah kemampuan, dan beradaptasi mengikuti perkembangan zaman yang sangat cepat.
Di balik dominasi angka pengangguran yang masih dipegang oleh lulusan SMA/SMK (lebih dari 65 persen), dilema ribuan sarjana tanpa pekerjaan ini menjadi sorotan serius. Fenomena ini menunjukkan adanya jurang antara kurikulum pendidikan tinggi dan kebutuhan riil industri lokal.
Menanggapi tantangan ini, Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kota Tarakan, Agus Sutanto, menyatakan pihaknya bergerak cepat dengan fokus pada penguatan kompetensi.
“Perlu bekal pelatihan berbasis kompetensi untuk para pencari kerja,” kata Agus Sutanto.
Meskipun ia mengakui adanya kendala berupa pengurangan bantuan dari kementerian pusat tahun ini, Disperinaker tetap bertekad untuk berupaya keras. Targetnya, job fair dan pelatihan berbasis kompetensi bagi pencari kerja akan kembali diupayakan terlaksana sekitar bulan Agustus mendatang. Dengan fokus pada peningkatan skill yang relevan, diharapkan para lulusan, baik sarjana maupun SMA/SMK, dapat lebih siap dan kompetitif mengisi peluang kerja yang ada di Tarakan dan sekitarnya.
Sumber rri.co.id





