July 2, 2026
Kaltara Tarakan

Sempat Melonjak, Harga Tiket Pesawat Perintis ke Perbatasan Akhirnya Turun Usai Dikepung Demonstrasi Mahasiswa

  • Juli 3, 2026
  • 2 min read
Sempat Melonjak, Harga Tiket Pesawat Perintis ke Perbatasan Akhirnya Turun Usai Dikepung Demonstrasi Mahasiswa

Kalimantan Raya, Tarakan – Gelombang protes mahasiswa terkait mahalnya akses transportasi di wilayah perbatasan Kalimantan Utara akhirnya membuahkan hasil. Pihak maskapai dan otoritas bandara resmi menurunkan kembali harga tiket pesawat perintis ke tarif normal, menyusul aksi unjuk rasa jilid dua yang digelar oleh Aliansi Mahasiswa Perbatasan Melawan bersama Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Tarakan di Bandara Internasional Juwata Tarakan, Selasa (30/6/2026).

Aksi turun ke jalan ini merupakan kelanjutan dari unjuk rasa serupa yang sempat mencuat pada 23 Juni lalu. Mahasiswa kembali bergerak lantaran tuntutan sebelumnya terkait lonjakan harga tiket dan karut-marutnya sistem pembelian tiket penerbangan bersubsidi tersebut belum dipenuhi oleh pihak pengelola.

Program penerbangan perintis yang sejatinya digagas oleh Pemerintah Pusat untuk memangkas disparitas harga dan membuka keterisolasian wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), dinilai telah melenceng dari esensi utamanya. Lonjakan tarif yang terjadi belakangan ini justru membebani isi dompet warga lokal di garda depan NKRI.

Ketua GMKI Cabang Tarakan, Jumaipin, menegaskan bahwa moda transportasi udara perintis bagi warga perbatasan merupakan kebutuhan yang bersifat primer dan mendesak, bukan fasilitas penunjang gaya hidup atau pariwisata.

“Masyarakat menggunakan pesawat perintis bukan untuk berlibur. Mereka menggunakan penerbangan perintis untuk menuntut pendidikan, berobat, dan menyambung hidup,” ujar Jumaipin di tengah riuhnya massa aksi di area bandara.

Jumaipin menambahkan, alasan pembengkakan biaya operasional yang kerap dijadikan dalih oleh pihak maskapai maupun otoritas bandara sama sekali tidak bisa dibenarkan. Ia mendesak pemerintah di tingkat daerah, provinsi, hingga pusat untuk bersikap responsif dan tidak menutup mata terhadap realita jeritan ekonomi di lapangan.

“Pemerintah dan pihak bandara wajib bertanggung jawab menyediakan layanan transportasi perbatasan yang terjangkau. Jangan limpahkan beban operasional ke pundak masyarakat kelas menengah ke bawah,” tegasnya.

Sikap tegas dan pengawalan ketat dari kelompok mahasiswa akhirnya memaksa pihak otoritas bandara dan maskapai mengambil kebijakan responsif pada sore hari pasca-aksi. Selain mengembalikan nominal harga tiket ke tarif normal, pihak pengelola juga berkomitmen membenahi serta memperbaiki mekanisme pembelian tiket agar lebih teratur dan mudah diakses oleh calon penumpang dari masyarakat umum.

Kendati berhasil mendesak penurunan tarif, GMKI Cabang Tarakan menyatakan bahwa situasi ini bukan akhir dari pergerakan. Kelompok mahasiswa memastikan akan tetap mengaktifkan posko pengawasan secara berkala guna mengantisipasi adanya kebijakan sepihak di masa mendatang yang kembali merugikan hak-hak mobilitas warga perbatasan.

Leave a Reply