Ekonom Yakin Ekonomi Bisa Pulih di 2021

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

TARAKAN – Pandemi Covid-19 yang merebak sejak awal 2020 lalu mematikan seluruh sektor usaha di Indonesia tak terkecuali di Kaltara. Meski demikian, Mohammad Faisal, Ph.D, Executive Director, Center, of Reform on Economics 9CORE) Indonesia meyakini ekonomi bisa kembali pulih di tahun 2021.
Ia memprediksi, adanya pemulihan bisa melihat perkembangan ekonomi Indonesia terkini. Dikatakan Mohammad Faisal, berbicara perkembangan ekonomi terkini, fokus pertama yang akan disoal yakni kondisi resesi yang saat ini dihadapi dan cara keluar dari kondisi tersebut. Resesi yang dihadapi saat ini lebih banyak disebabkan karena dari sisi permintaan dalam negeri mengalami kontraksi terutama dari sisi konsumsi karena pandemi Covid-19.
“Asal dari resesi lanjutnya, pandemi yang mengena pada sektor rill karena diberlakukan restriksi terhadap mobilitas dan juga transaski ekonomi pada umumnya,”urainya. Sehingga jika melihat ke depan, kunci pemulihan ekonomi ke depan ketika sektor rill bisa berjalan kembali, khususnya didorong permintaan dari masyarakat.
Ia melanjutkan, selama ini di masa pandemi diketahui terjadi penurunan daya beli. Namun lanjutnya, itu berlaku bagi kalangan 40 persen yang masuk kategori miskin berdasarkan pendapatannya. Yang menurun pendapatannya yang kategori miskin. Untuk itu perlu program dalam pemulihan ekonomi nasional, seperti bansos. Berbicara konsumsi yang paling berpengaruh bukan dari kalangan miskin. Tapi yang berada di kategori 40 persen menengah dan 20 persen terkaya. Kontribusinya terhadap Indonesia 83 persen berdasarkan data BPS.
“Bisa dilihat sekali bagaimana jomplangnya sumbangannya. Pandemi ini mengena karena kontraksi pada menengah dan ke atas,” ulasnya.
Ia melanjutkan, pendapatan kalangan miskin dan UMKM bergantung pada belanja dari kalangan menengah ke atas. Pemulihan ekonomi ke depan bergantung kepada kepercayaan masyarakat menengah ke atas untuk kembali berbelanja. Kondisi saat ini dengan daya beli kategori miskin menurun, sebenarnya kalangan menengah ke atas daya belinya justru kuat dan meningkat. Bisa dilihat dari tabungan peningkatan dana pihak ketiga (DPK) di perbankan selama pandemi indikasi delayed puchase behavior kalangan menengah-atas.
“Istilahnya ini simpanan orang-orang atas yang ada di perbankan. Di 2020 mulai Juni sampai Agustus naik,” ungkap Muhammad. Lebih jauh ia menambahkan, sebab utamanya pandemi, ada hal-hal komponen belanja yang tidak bisa dibelanjakan di kalangan menengah ke atas. Sehingga kecenderungan belanja yang menurun menjadi tabungan bagi mereka. Dengan meningkatnya tabungan, ada potensi pemulihan ekonomi ketika pandemi sudah bisa diatasi. Dan dalam hal ini kepercayaan masyarakat secara normal kembali. Ia mengistilahkan delayed purchase behavior atau belanja yang ditahan dan tertunda.
“Jika ini suatu saat kembali pulih, diperkirakan di 2021 potensi kembali pulih kepercayaan ini, potensi akan kembali untuk berbelanja. Misalnya jalan-jalan, berlibur itu yang akan pulih di 2021,” pungkasnya.

Share.

About Author

Leave A Reply