Kesaksian Pilu Ayah Arianto Tawakal, Sebut Anaknya Diperlakukan Tak Manusiawi
Kalimantan Raya, Nasional – Perjuangan mencari keadilan bagi AT (14), pelajar penghafal Al-Quran yang tewas diduga akibat pukulan helm baja oknum aparat, terus bergulir. Ayah korban, Rijik Tawakal, membeberkan momen konfrontasi pertamanya dengan terduga pelaku di Mako Brimob sesaat setelah kejadian tragis tersebut berlangsung.
Rijik menceritakan bahwa sesaat setelah melihat ceceran darah di lokasi kejadian, ia bersama anak keduanya (NKT)—yang juga menjadi saksi kunci—langsung mendatangi Mako Brimob untuk mencari pertanggungjawaban. Di sana, ia bertemu dengan Bripda MS, oknum yang diduga kuat sebagai pelaku penganiayaan.
Dalam pertemuan tersebut, Rijik mengungkapkan bahwa Bripda MS awalnya tidak mengakui perbuatannya. Namun, bantahan tersebut langsung terpatahkan oleh kesaksian anaknya yang berada di lokasi saat peristiwa pemukulan terjadi.
“Waktu pertama kali saya ketemu dia (pelaku) di Mako Brimob, dia sempat mengelak. Tapi anak saya yang kakaknya korban ini langsung menunjuk dia. Anak saya bilang, ini sudah pak, ini pelakunya, dia yang memukul pakai helm,” kenang Rijik dengan nada pedih.
Selain menyoal aksi kekerasan, Rijik juga meluapkan kekecewaannya terhadap cara petugas menangani anaknya setelah terjatuh. Ia merasa putranya tidak diperlakukan dengan layak secara kemanusiaan saat proses evakuasi ke rumah sakit.
Rijik menyebut informasi dari tetangga dan saksi di sekitar lokasi menggambarkan betapa tidak manusiawinya penanganan terhadap AT. Korban sempat dipindahkan dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain dalam kondisi kritis tanpa pendampingan keluarga yang memadai di awal kejadian.
“Kita bicara kemanusiaan, anak manusia itu. Mereka mengambil anak saya itu seperti binatang, dibawa ke rumah sakit satu baru dipindahkan lagi ke rumah sakit lain. Tetangga rata-rata melihat bagaimana mereka mengambil (mengevakuasi) anak saya,” ungkapnya dengan penuh emosi.
Meski kini Bripda MS telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Maluku, luka di hati keluarga Rijik belum mengering. Keterangan saksi mata yang melihat proses evakuasi dan keberanian NKT menunjuk pelaku menjadi modal kuat bagi keluarga untuk terus mengawal kasus ini.
Keluarga berharap kepolisian tidak hanya fokus pada pasal penganiayaan, tetapi juga melihat sisi ketidakmanusiaan petugas dalam menangani korban pasca-kejadian. Hingga saat ini, proses hukum terhadap Bripda MS masih terus berjalan di Polres Tual, baik secara pidana maupun pemeriksaan kode etik profesi.
Sumber tvonenews




