April 6, 2025
Kota

Perumda Tarakan Agrobisnis Mandiri Hasilkan 3,6 Juta Benur

  • Oktober 27, 2020
  • 3 min read
Perumda Tarakan Agrobisnis Mandiri Hasilkan 3,6 Juta Benur

TARAKAN – Selain melakukan panen perdana ayam potong, Perumda Tarakan Agrobisnis Mandiri juga melakukan panen benur udang di Balai Benih Udang (BBU) Kelurahan Pantai Amal, Rabu (21/10) lalu.
Dikatakan Dirut Perumda Tarakan Agrobisnis Mandiri, Ruslan, untuk panen perdana tahun ini ada enam bak yang digunakan menampung benur. Per bak berisi bisa sampai 600.000 ekor benur. “Tiga bak sudah kami panen di malam sebelumnya. Sisa tiga bak dipanen di pagi harinya,” ungkap Ruslan. Ia melanjutkan, untuk kapasitas di BBU ia menjami tersedia cukup banyak. Saat ini yang dioperasikan ada 12 bak dan masih tersisa 20 bak belum difungsikan.

PANTAU: kegiatan panen benur perdana di Balai Benih Udang (BBU) yang dikelola Perumda Tarakan Agrobisnis Mandiri, dipantau Wali Kota Tarakan Dokter Khairul. Foto: Humas

“Artinya ada 32 bak yang siap difungsikan. 32 bak dikali dalam 1 bak sekitar 700 ribu ekor maka bisa dihitung sendiri berapa targetnya yang bisa dipanen,” beber Ruslan. Untuk saat ini dilanjutkan Ruslan, BBU masih bermain di indukan. Adapun indukan didatangkan dari Aceh, Manggar dan sebagian juga hatchery di Tarakan.
Ia mengakui, untuk Kaltara, pihaknya belum bisa memenuhi kebutuhan benur. Namun tak menutu kemungkinan jika bisnis tersebut nanti berkembang pesat, perlahan-lahan Kaltara bisa memenuhi sendiri kebutuhan benur bagi petambak.
“ Karena masih sangat minim. Kalau kebutuhan BBU untuk hatchery udang kami hanya bisa cover sekitar 30 persen untuk saat ini itu kalau nanti sudah jadi semua. Karena kenapa? Begitu banyaknya petambak di Kaltara urainya.
Untuk harga ia melanjutkan, Perumda Tarakan Agrobisnis Mandiri menawarkan lebih murah dan lebih hemat di kisaran Rp 4 ribu per ekor. Jika umumnya dijual Rp 28 ribu per ekor, Ruslan menyebut pihaknya menyediakan harga di Rp 24 ribu per ekor benur. “Ini supaya bagaimana kita bisa menstabilkan harga dan di sisi lain juga kita berbisnis tapi kita di bawah pemerintah. Hatchery udang yang sekarang itu harganya Rp 28 ribu atau Rp 27 ribu per ekor. Kami jualkan Cuma Rp 24 rupiah,”sebutnya.
Untuk indukan dilanjutkannya, didatangkan dari Aceh. Harga per ekor indukan mencapai Rp 250 ribu per ekor. Dalam satu ekor, bisa menghasilkan benur sekitar 2 jutaan. “Tapi kita juga harus melihat dari sisi angka hidupnya. Paling sekitar 30 persen. Itulah yang sekrang yang hidup dan dipanen,” jelasnya.
Lebih jauhia memaparkan, untuk pemasaran dibuka untuk siapapun yang ingin membeli benur tersebut. Sebelumnya sudah pernah dilakukan uji coba tiga bak dan berhasil. “ Pembelinya saat ini sudah banyak padahal masih di level kenalan dan keluarga. Itu karena harganya juga lebih rendah. Kalau kita mau menstabilkan harga udang itu harus dari hulu ke hilir. Makanya diperbaiki hatchery-nya. Setelah baik hatchery-nya maka pelan-pelan cari cold storage untuk kemudian berdampingan supaya harga udang juga bisa stabil,” tegas Ruslan.

Wali Kota Tarakan Dokter Khairul mengungkapkan dengan panen tersebut minimal bisa membantu mengurangi suplai dari luar untuk bahan baku benur udang ini. Wali kota Tarakan Dokter Khairul menargetkan panen hingga sampai 30 juta ekor benur. Selama ini ia memperkirakan kebutuhan benur hanya di Kota Tarakan bisa mencapai ratusan juta ekor per tahun. Karena pihaknya hanya bisa memenuhi kebutuhan di Kota Tarakan hanya sekitar 20 persen dari lokal atau dari dalam Kota Tarakan sendiri. “Selebihnya memenuhi kebutuhan didatangkan dari luar. Namun perlu diingat untuk mendatangkan dari luar ini penh risiko. Misalnya dalam perjalanan bisa banyak yang mati. Dan itu sudah menjadi risiko para petani karena kalau sudah dikirim artinya sudah ditransfer uang dan mau tak mau harus diterima walaupun kondisinya ada yang mati kemungkinan,” beber Dokter Khairul. Selain risiko kematian juga, jika mendatangkan dari luar bisa tidak sesuai ekspektasi. “Termasuk yang sering dipersoalkan harus PL 12 yang dipesan tapi yang datang PL 8. Nah itu juga menjadi risiko. Dan kalau di BBU mereka menjaga kualitasnya. Untuk sementara masih Ini udang windu. Udang paname belum bisa masuk ke Tarakan,” pungkasnya. (***)