Rupiah Merosot ke Rp16.718 per Dolar AS Akibat Tarif Trump

Kalimantan Raya, Ekonomi – Nilai tukar rupiah jatuh ke Rp16.718 per dolar AS, terdepresiasi 20 poin atau 0,12 persen dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya, pada Rabu (2/4).
Kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) mencatatkan rupiah di posisi Rp16.566 per dolar AS pada perdagangan terakhir sebelum libur lebaran, Kamis (27/3).
Penurunan rupiah juga terjadi pada sebagian besar mata uang Asia. Ringgit Malaysia melemah 0,4 persen, Baht Thailand turun 0,02 persen, yen Jepang berkurang 0,15 persen, dan lira Turki turun 0,07 persen.
Namun, beberapa mata uang berhasil menguat, seperti peso Filipina yang naik 0,01 persen, dolar Singapura yang naik 0,03 persen, dan won Korea yang menguat 0,33 persen.
Mata uang negara-negara Barat juga menunjukkan pergerakan yang bervariasi. Euro melemah 0,1 persen, poundsterling Inggris turun 0,05 persen, sementara dolar Australia menguat 0,4 persen.
Lukman Leong, analis mata uang dari Doo Financial Futures, menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah dan mata uang negara berkembang lainnya disebabkan oleh sentimen risk-off akibat kekhawatiran terhadap kebijakan tarif baru yang akan diberlakukan oleh Presiden AS Donald Trump, yang diperkirakan mulai berlaku pada Rabu ini.
“Sebagai dampaknya, negara-negara lain mulai mengancam akan membalas, yang berpotensi memperburuk perang dagang,” ujar Lukman.
Lukman juga menambahkan bahwa kebijakan Trump belakangan ini, seperti rencana menguasai Greenland dan pencalonan kembali dirinya untuk periode ketiga sebagai presiden AS, semakin memperburuk kontroversi dan kekhawatiran pasar.
“Di dalam negeri, sentimen masih negatif terkait dengan kekhawatiran soal kondisi fiskal pemerintah,” tambahnya.
Lukman memprediksi nilai tukar rupiah bisa terus tertekan hingga mencapai Rp17.000 per dolar AS, namun ia yakin bahwa Bank Indonesia (BI) akan turun tangan untuk menjaga stabilitas mata uang rupiah.