Indonesia Dominasi Hotspot Karhutla di ASEAN, Ribuan Titik Panas Terdeteksi Satelit Jelang Puncak Kemarau
Kaltara Raya, Nasional – Ancaman bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin nyata di kawasan Asia Tenggara. Data terbaru Global Nature Watch mencatat Indonesia menempati urutan tertinggi di antara negara-negara anggota ASEAN dalam hal sebaran titik panas (hotspot) yang terdeteksi oleh instrumen Visible Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS).
Berdasarkan rekapitulasi data per 24 Agustus 2026, sepanjang periode 1 hingga 24 Agustus 2026 saja, sensor satelit VIIRS telah mendeteksi sebanyak 3.144 titik panas di berbagai wilayah Indonesia.
Jumlah tersebut mendominasi secara signifikan total hotspot di kawasan Asia Tenggara, di mana dari 11 negara ASEAN, total titik panas yang terdeteksi sejak awal Agustus 2026 tercatat sebanyak 3.217 titik. Artinya, mayoritas titik panas di regional Asia Tenggara saat ini terkonsentrasi di wilayah Indonesia.
Sementara itu, jika ditarik secara akumulatif dalam kurun waktu satu tahun terakhir (18 Agustus 2025 hingga 24 Agustus 2026), total titik panas yang terdeteksi sensor VIIRS di Indonesia mencapai 5.669 titik. Seluruh titik tersebut terverifikasi memiliki tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) sebagai indikasi aktivitas kebakaran lahan.
VIIRS sendiri merupakan teknologi instrumen penginderaan jauh yang terpasang pada sejumlah satelit untuk memantau serta mengukur anomali suhu panas di permukaan Bumi secara terintegrasi.
Tingginya lonjakan titik panas di Indonesia ini menjadi alarm kewaspadaan bagi daerah-daerah rawan karhutla, termasuk wilayah Kalimantan Utara (Kaltara) dan sekitarnya, untuk memperketat pengawasan lapangan serta kesiapsiagaan personel pemadam sebelum dampak kabut asap meluas.





