March 25, 2026
Nasional

Aktivis KontraS Andrie Yunus Jadi Korban Penyiraman Air Keras Usai Rekam Podcast di Jakarta

  • Maret 13, 2026
  • 2 min read
Aktivis KontraS Andrie Yunus Jadi Korban Penyiraman Air Keras Usai Rekam Podcast di Jakarta

Kalimantan Raya, Nasional – Kabar mengejutkan datang dari dunia aktivisme hak asasi manusia. Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, dilaporkan menjadi korban penyiraman air keras oleh orang tidak dikenal pada Kamis malam (12/3/2026).

Insiden tragis ini mengakibatkan Andrie mengalami luka bakar serius yang mencapai 24 persen di sekujur tubuhnya. Serangan tersebut terjadi sesaat setelah korban menyelesaikan agenda kegiatan di Jakarta.

Koordinator Badan Pekerja KontraS, Dimas Bagus Arya, mengonfirmasi bahwa penyiraman tersebut meninggalkan dampak fisik yang signifikan bagi Andrie. Cairan kimia berbahaya tersebut mengenai beberapa area vital tubuh korban.

“Penyiraman itu mengakibatkan Andrie mengalami luka serius, terutama pada area tangan kanan dan kiri, muka, dada, serta bagian mata,” ujar Dimas dalam keterangan resminya yang dikonfirmasi pada Jumat (13/3/2026).

Berdasarkan informasi yang dihimpun, peristiwa ini terjadi sekitar pukul 23.00 WIB. Saat itu, Andrie baru saja keluar dari Kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) usai menghadiri sesi rekaman siniar (podcast). Siniar tersebut diketahui membahas isu sensitif bertajuk “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia”.

Pihak kepolisian dilaporkan telah bergerak cepat menanggapi laporan kekerasan terhadap aktivis ini. Petugas sudah melakukan pengecekan di Tempat Kejadian Perkara (TKP) guna mencari petunjuk dan barang bukti yang ditinggalkan oleh pelaku.

“Waktu kejadian sudah dicek TKP,” ungkap Erlyn, perwakilan pihak berwenang saat memberikan keterangan singkat mengenai progres awal penanganan kasus ini.

Hingga saat ini, pelaku serangan tersebut masih dalam pengejaran. Insiden ini pun menuai sorotan luas dari berbagai lembaga bantuan hukum dan pegiat HAM, mengingat serangan terjadi tepat setelah korban menyuarakan isu-isu kritis terkait kondisi demokrasi di tanah air.

Disadur dari kompas.com